Kamis, 17 Maret 2011

Berapa Besar Utang Indonesia?

Menurut data yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia (BI) utang luar negeri Indonesia per Maret 2010 mencapai 180.7 miliar dolar AS, atau naik sekitar 2 miliar dolar dibanding per Februari senilai 178,5 miliar dolar AS.

Utang tersebut terdiri dari pinjaman pemerintah 95,1 miliar dolar AS, BI tercatat 10,5 miliar dolar AS dan swasta 75,1 miliar dolar AS.

Terlepas dari tema bahwa terdapat peningkatan utang Indonesia atau sebaliknya semakin mengecilnya rasio utang terhadap PDB (Produk Domestik Brutto) , maka jika dikonversi ke dalam rupiah, jumlah utang Indonesia sudah mencapai Rp. 1.807. 000.000.000.000.- (Seribu Trilyun Delapan Ratus Tujuh Juta Rupiah) dengan asumsi 1 dollar sama dengan Rp. 10.000.-


Bisakah kita membayangkan angka Seribu Trilyun Delapan Ratus Tujuh Juta Rupiah tersebut? Sangat sulit menggambarkan sebesar apa angka tersebut karena memang sudah berada di luar angka psikologis kita yang belum pernah melihat fisik uang sejumlah tersebut, bahkan mungkin tak akan melihat selamanya.


Baiklah, coba kita deskripsikan, seberapa besar utang tersebut:
Jumlah penduduk Indonesia adalah 230juta jiwa. kalau kita beranggapan bahwa semua penduduk Indonesia ini memiliki uang di kantong masing-masing Rp. 10.000.-, maka Total uang yang tersedia adalah Rp. 2.300.000.000.000.- (Dua Trilyun Tiga Ratus Milyar Rupiah), itu berarti baru 0,13% dari jumlah utang tersebut.


Untuk bisa mencapai angka 1.807 trilyun, maka kita harus mengumpulkan uang Rp. 10.000,- sebanyak 786 kali. Jika kita ingin mengumpulkan uang tersebut setiap hari, maka utang tersebut akan lunas selama lebih kurang 2,1 tahun, atau dua tahun 1 bulan.


Atau dengan bahasa lain, dengan asumsi yang sama bahwa setiap jiwa di negeri ini dibebankan Rp. 10.000,- maka setiap bulan kita harus menyetor uang sebesar Rp. 300.000.-,  per bulan selama 25 bulan atau dua tahun 1 bulan.


Lebih ekstim lagi, jika ingin membayar dalam satu tahap lunas, maka setiap jiwa dari penduduk Indonesia harus menyetorkan uang sebesar Rp. 7.856.521,74.- (Tujuh Juta Delapan Ratus Lima Puluh Enam Ribu Lima ratus Dua Puluh Satu Rupiah Tujuh Puluh Empat Sen).

Minggu, 06 Februari 2011

Menjauhi Perangkap Kemiskinan


Jumlah penduduk Indonesia yang berada di bawah garis kemiskinan menurut data BPS tahun 2010 adalah 13,33% dari jumlah penduduk atau sejumlah 31,02 juta jiwa, atau hampir sama dengan jumlah penduduk negara Canada yang 32,8 juta, atau sedikit di atas jumlah penduduk negara Malaysia, 28,9 juta.

Kemiskinan menurut kamus wikipedia adalah keadaan dimana terjadi ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan, pakaian, tempat berlindung, pendidikan dan kesehatan. Kemiskinan dapat disebabkan oleh kelangkaan alat pemenuh kebutuhan dasar ataupun sulitnya akses terhadap pendidikan dan pekerjaan. Issue kemiskinan bukanlah issue yang berdiri sendiri melainkan ia memiliki tautan rantai yang memenjarakan kita dalam perangkap kemiskinan secara terus-menerus jika rantai ini tak dapat diputuskan.

Sulitnya mendapatkan akses pendidikan saat ini bukan lagi hal yang menarik untuk dijadikan alasan karena telah dicanangkan oleh pemerintah adanya program wajib belajar 9 tahun. Faktor kesulitan akses pendidikan disebabkan juga oleh faktor internal dalam lingkungan keluarga, sejauhmana keluarga berupaya mendorong putra-puteri mereka agar tertatik belajar di lembaga pendidikan.

Sementara kesulitan mengakses pekerjaan adalah turunan dari proses pendidikan yang diterima sehingga dua hal ini memiliki keterkaitan yang sangat erat dengan issue kemiskinan. Sulitnya mengakses pekerjaan biasanya karena kualifikasi yang diharapkan tak dapat dipenuhi ataupun karena calon pekerja tak memiliki keahlian yang dapat diandalkan, hal ini sering kita dengar dengan istilah unskilled youth labour. Pekerja yang tak memiliki keahlian ini disebabkan karena minimnya pendidikan yang diterima atau bahkan tidak pernah menenyam pendidikan sama sekali. Pendidikan yang dimaksud disini adalah formal maupun non-formal, sebagai lembaga yang membentuk calon pekerja benar-benar siap untuk diterima pasar karena memenuhi kualifikasi yang diharapkan.

Jika calon pekerja tidak memiliki keahlian, maka dalam dunia kerja, pekerja tersebut akan masuk dalam kategori low work quality (kualitas kerja rendah) dengan konsekuensi juga akan mendapatkan low income (pendapatan yang rendah) karena sesuai dengan keahlian yang dimilikinya.

Rendahnya pendapatan penduduk di suatu negara menjadi tolok ukur dalam menentukan tingkat kemiskinan. Bank Dunia memberikan kategori kemiskinan ini ke dalam dua tingkatan berdasarkan pendapatan masyarakat sebuah negara; pertama, kemiskinan absolut; yakni hidup dengan pendapatan di bawah USD 1$/hari. kedua, kemiskinan menengah; di bawah USD 2$/hari.

Pendapatan yang rendah menyebabkan pekerja tak dapat memenuhi kebutuhan ekonomi rumah tangga sehingga mereka tak mampu menyekolahkan anak-anak mereka dan bahkan melibatkan anak dalam pekerjaan mereka untuk dapat menambah penghasilan keluarga dalam rangka memenuhi kebutuhan hidup. Pada titik ini, anak telah kehilangan kesempatan mengakses sekolah (out of school) karena telah berjibaku dalam pekerjaan. Status anak menjelma menjadi child labour (pekerja anak) sebagai profesi baru, bukan pelajar yang mestinya duduk dibangku sekolah agar dapat meningkatkan kapasitas diri mereka dan kelak menjadi pemuda yang memiliki keahlian serta masuk dalam kategori pemuda pekerja yang memiliki keahlian (skilled youth labour) dengan pendapatan yang lebih baik.

Poverty trap (lingkaran kemiskinan) ini akan terus berlangsung selama kita tidak memutuskan mata rantainya. Pendidikan adalah mata pisau yang dapat memutus lingkaran kemiskinan. Pendidikan yang dimaksud baik pendidikan formal maupun non-formal.

Selasa, 01 Februari 2011

Matinya Tombol Eksekusi

Pernah membuat naskah, tulisan atau pekerjaan lain dengan komputer? Rasanya semua kita pernah melakukan hal tersebut. Menulis, membuat naskah ataupun catatan menggunakan komputer sudah menjadi hal yang umum semenjak teknologi komputer diperkenalkan kepada khalayak. Bahkan pekerjaan-pekerjaan lain selain menulis juga menggunakan komputer sebagai media untuk mempercepat proses penyelesaian salah satu rangkaian kegiatan, paling tidak komputer telah menjadi bagian terbesar dari penyelesaian sebuah konsep; baik itu naskah dalam bentuk tulisan maupun design oleh para arsitek perancang rumah dan mesin.

Untuk menulis naskah, keyboard merupakan elemen yang sangat penting agar semua huruf yang ditekan dapat ditransfer ke halaman kertas kerja di layar komputer untuk kemudian dapat dijadikan dokumen resmi setelah melalui proses cetak dengan menggunakan printer.

Bagi designer, mouse mungkin lebih mendominasi kerja mereka karena semua perintah telah disimbolisasi melalui icon-icon pada menu bar di layar program design tersebut sehingga memudahkan dan memperepat kerja dengan hasil yang tetap optimal.

Keyboard dan mouse merupakan bagian yang memiliki fungsi masing-masing. Keyboard, selain dapat mentransformasikan gerakan jemari menjadi huruf, salah satu tombolnya berfungsi sebagai tombol eksekusi, yaitu tombol 'enter'. Apapun yang kita lakukan dalam mengoperasikan program yang ada dalam komputer, maka mesti diakhiri dengan menekan tombol 'enter' sebagai bentuk eksekusi bahwa sebagian atau beberapa proses pekerjaan telah diselesaikan.

Jika pekerjaan lebih banyak menggunakan 'mouse', maka tombol kanan 'mouse' adalah tombol opsi, sedangkan tombol kiri merupakan tombol 'eksekusi', sama fungsinya seperti tombol 'enter' pada keyboard.

Bisakah anda bayangkan, seandainya kedua tombol 'eksekusi'; 'enter' dan 'mouse' tidak berfungsi?

Dapat dipastikan, bahwa naskah, tulisan, catatan ataupun design yang telah dirancang tak dapat disimpan, tak dapat di cetak dan tak dapat diimplementasikan di lapangan, karena matinya tombol eksekusi. Naskah, tulisan, catatan ataupun design sekedar menjadi konsep yang tidur.

Visi Tanpa Eksekusi adalah Lamunan, Eksekusi Tanpa Visi adalah Mimpi Buru

Vision without execution is a daydream, execution without vision is a nightmare. Pepatah Jepang ini mungkin dapat mewakili cerita di atas untuk dijadikan analogi terhadap kondisi yang setiap saat terjadi di sekitar kita. Beratus bahkan mungkin beribu konsep telah dirumuskan di negeri ini demi meraih visi yang telah ditorehkan untuk mensejahterakan dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Tetapi, lebih setengah abad telah dijalankan, belum juga ada perubahan nasib yang mengarah pada kesejahteraan dan mencerdaskan.

Undang-undang memerintahkan agar kekayaan alam Indonesia digunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat, konsep ini jelas perintahnya, tapi ekploitasi dan eksplorasi sumber daya alam telah dimanfaatkan sebesar-besarnya oleh kekuatan luar secara semena-mena tanpa ada yang mampu menghentikan, negeri ini punya pemimpin, tapi tak dapat mengeksekusi untuk lebih banyak pada kepentingan rakyat.

Negeri ini telah bertekat untuk memberantas korupsi, tapi pencucian dan pencurian uang negara berlari kencang, pemimpin negeri ini terus beretorika dan tak memiliki daya untuk melakukan eksekusi. Tombol 'enter' dan klik kiri 'mouse' tak berfungsi, maka cita-cita pemberantasan korupsi hanya menjadi konsep belaka.

Pertumbuhan ekonomi diprediksi hampir dua digit, tapi sektor riil tak dapat suntikan yang memadai, karena dana yang dihimpun dari masyarakat lebih menguntungkan jika disalurkan melalui kredit perusahaan besar, kredit perumahan dan mobil mewah, gerigi roda mesin ekonomi semakin lama semakin berkarat dan sulit berputar. Pemegang kuasa tak mampu membendung, karena tombol 'enter' dan tombol kiri 'mouse' juga macet.

Dari atas hingga ke bawah; pemerintah maupun non pemerintah; kita hanya memiliki keyboad tanpa 'enter' dan 'mosue' tanpa tombol kiri. Di dalam konsep hanya ada opsi-opsi tanpa eksekusi.

Minggu, 23 Januari 2011

Filantropi

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1989), kedermawanan diartikan sebagai kemurahan hati; kebaikan hati terhadap sesama manusia. Dalam istilah asing, kedermawanan ini disebut juga dengan Filantropi yang berasal dari bahasa Latin "philanthropia" atau bahasa Yunani "philo" dan "anthropos", yang berarti "cinta manusia". Filantropi adalah kepedulian seseorang atau sekelompok orang kepada orang lain berdasarkan kecintaan pada sesama manusia (Hilman Latief, 2010).

Kepedulian yang dimaksud dalam konsep filantropi disini merupakan tindakan membantu/ menolong sesama manusia melalui potensi yang dimiliki baik dari segi waktu, uang, fikiran dan tenaganya.

Berbeda dengan Karitas (charity), filantropi lebih menekankan pada pendampingan (advocacy) dan pemberdayaan yang berdampak pada jangka panjang. Sedangkan karitas lebih menekankan pada aspek pelayanan (serve) (Hilman Latief, 2010).


Walaupun advokasi melekat pada profesi hukum jika dilihat dari bahasa Belanda, yang berarti pengacara atau pembela, namun dalam bahasa Inggris, advocate juga berarti to promote (mengemukakan atau memajukan), to create (menciptakan), to change (melakukan perubahan). Sehingga jika ditarik dalam ranah pemberdayaan kaum miskin, advokasi bukan sekedar mendampingi dan membela saja, tetapi advokasi adalah melakukan upaya-upaya  yang mengarah pada perubahan sosial secara sistematis dan strategis. Sehingga filantropi lebih bermakna pada sifat yang produktif. Produktif dalam arti menjadikan kondisi hari ini lebih baik dari pada hari yang lalu dan esok lebih baik dari pada hari ini.


Akan halnya dengan karitas, hanya sebatas memberikan pelayanan, sehingga penekanan pada hasil jangka panjang bukan menjadi tujuan utamanya, melainkan kedermawanan yang bersifat konsumtif semata.

Kedermawanan Untuk Apa?
Tak dapat dipungkiri, bahwa suatu kedermawanan memiliki latar belakang yang berbeda-beda baik yang dilakukan oleh individu maupun kelompok-kelompok dan organisasi filantropi yang saat ini semakin marak di seluruh belahan dunia. Pemberian derma kepada orang lain bisa saja karena menginginkan popularitas, keuntungan materi yang lebih besar, atau bahkan membawa misi-misi tertentu dalam kaitannya dengan pergulatan pemikiran pada suatu komunitas yang berpengaruh. Lantas, apakah sebenarnya yang ingin dicapai dari sebuah kedermawanan? Popularitas, umpan balik ekonomis (pamrih) atau cukup menyeberangkan seseorang dari kondisi yang labil kepada kondisi yang stabil?

Kamis, 20 Januari 2011

Metode Empat Kotak

Saya teringat kembali suasana pelatihan demi pelatihan yang saya dan teman-teman ikuti selama ini. Banyak sekali hikmah dan manfaat yang dapat diambil kaitannya dengan sisi-sisi kehidupan sehari hari baik secara individu maupun sosial.

Umumnya pelatihan diselenggarakan untuk meningkatkan kapasitas pribadi peserta pelatihan. Diharapkan pasca pelatihan, peserta mendapatkan peningkatan pemahaman akan suatu masalah dengan cara menganalisa masalah tersebut untuk diketahui akar persoalannya. Proses ini merupakan salah satu untaian logika berfikir yang rasional dalam merunut dan melihat alur dan lika-liku masalah yang dihadapi agar kita tidak berhenti pada tahap tertentu sebelum sampai pada titik yang menunjukkan adanya penyelesaian yang sering kita sebut dengan istilah jalan buntu.

Dalam salah satu materi yang pernah saya terima, ada satu metode sederhana yang disajikan kepada peserta, sederhana tapi memiliki makna yang sangat berkesan untuk menyelesaikan beberapa problem yang ringan-ringan. Jika dikembangkan ke arah yang lebih luas, bisa juga menjadi formula yang dapat menyelesaikan persoalan yang sedikit lebih berat, metode ini disebut Metode Empat Kotak.

Dalam session ini, Metode Empat Kotak memang diaplikasikan dalam konteks menulis cerita. Ya, bagaimana menyelesaikan sebuah tulisan. Mungkin konsep awal penemuan metode ini karena adanya fenomena dimana banyak penulis yang tak mampu menyelesaikan tulisannya. Ketika paragraf pertama ditorehkan di atas kertas, penulis bercerita panjang lebar atas suatu masalah yang dihadapi sang tokoh dalam tulisannya, dari segala sudut pandang masalah dimunculkan untuk memberikan kesan kepada pembaca bahwa sang tokoh pantas mendapat perhatian serius. Berkecamuk ide yang ada dalam benak penulis hingga akhirnya lupa mengakhiri ceritanya. Akibatnya, kasihan sang tokoh dalam cerita, dia berada di awang-awang masalah yang tak kunjung tuntas, sampai penulis lelah meladeni idenya, sang tokoh tetaplah dalam kubangan masalah yang terus memuncak tak henti-hentinya.

Selanjutnya, bisa ditebak. Penulis biasanya sampai pada titik jenuh dan kehabisan cara untuk mengeksploitasi masalah yang menimpa sang tokoh yang telah berada di puncak klimaksnya. Celakanya, penulis tak juga dapat memunculkan kalimat transisi untuk mengalihkan posisi sang tokoh agar bergerak ke arah yang mencerahkan untuk menyelesaikan masalahnya.

Kembali ke Metode Empat Kotak. Metode ini merupakan salah satu cara penyelesaian masalah yang sederhana dalam menulis cerita. Empat Kotak disini memang kotak yang sebenarnya, bukan analogi. Cerita atau tulisan yang akan kita buat dibagi dalam 4 bagian, dimana setiap bagiannya memiliki fungsi yang berbeda-beda:
  1. Kotak Pertama ; kotak ini adalah bagian awal dari cerita yang berisi karakter sang tokoh; katakanlah sang tokoh dalam cerita ini adalah seseorang yang bernama Rumbee. Dalam kotak ini bisa dituliskan, "Rumbee seorang anak yang sedang bersedih". Selanjutnya melompatlah ke kotak 4, dimana karakternya tetap sama, yaitu, "Seorang anak yang bernama Rumbee, tetapi sekarang dia tidak lagi sedih". Ini merupakan akhir cerita dimana awalnya Rumbee bersedih, tetapi di akhir cerita dia tidak lagi bersedih, alias senang.
  2. Kotak Kedua ; Kotak 2 dan 3 adalah bagian inti cerita yang menunjukkan situasi yang berbalik dihadapi Rumbee. Pada kotak 2 dan 3 ini harus memperlihatkan adanya perubahan situasi, sehingga menghasilkan apa yang ditulis pada kotak 4. Kotak 2 dapat diisi dengan masalah yang dihadapi oleh Rumbee yang menyebabkan dia bersedih dengan memberikan alasan. Misal Rumbee sedih karena; pertama; Dia lapar, kedua; dia bau, ketiga; dia dijauhi oleh teman.
  3. Kotak Ketiga: Kotak ini digunakan untuk menyelesaikan masalah Rumbee, situasi terbalik dari kotak 2, yakni dengan mengidentifikasi 3 masalah pada kotak 2. Mengapa Rumbee sekarang menjadi senang? Karena dia tidak lapar lagi, tidak bau lagi, dan Rumbee sudah memiliki banyak teman. 
  4. Kotak Keempat; Seperti telah disebutkan di atas, kotak 4 sejak awal telah diberikan situasi yang sesuai dengan keinginan penulis. Bahwa Rumbee sekarang sudah merasa senang.
Untuk menyempurnakan kerangka cerita ini di setiap kotak, maka gunakanlah rumus 5W1H pada setiap kotaknya, dan kembangkan sesuai alur cerita. Dengan kerangka ini, cerita tidak akan lari dari temanya dan tetap dapat diakhiri.

Menulis kreatif adalah modul yang telah diujicoba di beberapa lembaga pendidikan oleh ILO-EAST bersama mitra kerjanya di seluruh Indonesia. Tema ini menjadi salah satu tema yang disukai peserta pelatihan, apalagi yang gemar menulis. Selain itu, metode 4 kotak ini juga dapat membentuk struktur berfikir seseorang dalam menyelesaikan masalah yang ringan-ringan

Semoga bermanfaat.

Rabu, 19 Januari 2011

Peluang Bisnis

Angka yang diumumkan pemerintah di setiap daerah tentang kondisi ekonomi wilayahnya adalah angka-angka yang menggembirakan secara kuantitatif sebagai bentuk komunikasi pemerintah dengan berbagai pihak dalam rangka memberikan rasa nyaman dan menumbuhkan kepercayaan akan kepemimpinan mereka.

Tetapi kenyataannya, secara kualitatif, tidaklah menguntungkan sebagaimana angka-angka di publikasikan di surat kabar tersebut, karena sebenarnya masyarakat kesulitan mencari pekerjaan, tak memiliki uang untuk belanja kebutuhan rumah tangga dan dihadapkan pada tingginya biaya karena kenaikan harga.

Pasar kita lesu tak bergairah, putaran barang yang dijajakan di toko-toko lamban bergerak, ruko baru yang banyak berdiri kosong melompong tak ada penyewa dan pembeli, di setiap blok bangunan ruko lama, selalu ada satu atau dua pintu ruko yang ditempel tulisan "disewakan" atau "dijual", tulisan ini terpampang dalam waktu yang cukup lama. Nampaknya bisnis developer sangat digemari oleh para pebisnis dan bank sebagai penyalur kredit bagi developer karena bisnis lain kurang menjanjikan dan kesulitan mendapat suntikan dana dari lembaga keuangan.

Di Banda Aceh, hingga hari ini hanya bisnis warung kopi yang tetap eksis karena kebiasaan masyarakat di Aceh sangat gemar duduk di warung kopi untuk berbagai keperluan. Namun demikian, ada juga beberapa warung kopi yang tutup atau dialihkan fungsinya untuk bisnis lain karena persaingan warung kopi juga semakin ketat.

Terlepas dari peran pemerintah, lesunya gerak ekonomi di Banda Aceh dan sekitarnya disebabkan beberapa hal; pertama, bisnis yang monoton. Tidak ada jenis bisnis baru yang dapat menarik perhatian, kebanyakan para pebisnis baru mengekor dengan kesuksesan pebisnis lama. Jika seorang pebisnis sukses di bidang developer, maka pebisnis muda ramai-ramai juga menjadi developer, atau bisnis lain yang membutuhkan modal besar seperti membuka showroom, doorsmeer, restoran cepat saji dan sejenisnya.

Kedua, Kurangnya kreatifitas. Biasanya kreatifitas muncul dalam kondisi persaingan usaha yang semakin keras dan ketat. Untuk kasus Banda Aceh dan sekitarnya, persaingan belum memperlihatkan pada level yang ketat sebagaimana halnya di kota-kota besar lainnya sehingga perilaku masyarakat masih sangat santai dan terkesan bermalas-malasan.

Ketiga, Takut mengambil resiko. Beberapa pebisnis pemula yang memiliki ide bisnis baru tidak berani mengambil resiko karena khawatir bisnis yang ditawarkan tidak mendapat sambutan pasar yang sesuai. Biasanya situasi ini karena tidak didahului oleh studi kelayakan bisnis untuk melihat berapa besar potensi pasar yang dapat menyerap produk yang ingin dilempar ke pasar.

Keempat, Ingin cepat sukses. Pebisnins pemula terlalu cepat berfikir mendahului umur usahanya karena selalu berkaca pada pebisnis yang sudah besar. Padahal pebisnis yang sukses tersebut sudah menjalani bisnisnya selama kurun waktu yang panjang. Sikap ini menjadikan pebisnis muda cepat naik dan juga cepat terpuruk.

Peluang Bisnis

Orang yang berani selalu siap menghadapi resiko karena keberaniannya muncul sudah melalui perhitungan matang dan dapat memprediksi resiko bisnis yang muncul di kemudian hari, tipe pebisnis ini adalah orang hyang sudah dapat melihat peluang bisnis yang baik. Berbeda dengan nekat, jenis sikap ini adalah sikap konyol yang melakukan sesuatu tanpa melakukan analisis terhadap resiko yang akan dihadapi serta tidak memperhitungkan ada tidaknya peluang bisnis ini.

Banda Aceh adalah ibukota provinsi yang selalu dikunjungi oleh banyak tamu dari luar kota maupun luar Aceh bahkan dari luar negeri karena Banda Aceh adalah pusat administrasi untuk Aceh. Status Banda Aceh sebagai ibukota provinsi sangat strategis jika dipandang dari segi bisnis. Pangsa pasar yang sangat heterogen menjadikan jenis bisnis yang bervariasi bisa hidup di Banda Aceh asalkan bisnis tersebut digarap dengan serius.

Bagi masyarakat yang sering berpergian ke kota-kota lain di Indonesia, tentu sangat mudah melihat peluang bisnis ini. Sebut saja misalnya bisnis waralaba yang semakin marak di Banda Aceh, hingga sekarang bertahan karena mereka memiliki sistem manajemen yang baik yang diatur seragam dari induknya. Atau bisnis kecil seperti gorengan yang ternyata memiliki peluang yang cukup besar di Banda Aceh dan sekitarnya. Umumnya bisnis ini dilakukan oleh pendatang dari luar Aceh karena mereka melihat peluang ini belum terisi, dan orang Aceh sendiri masih enggan melakukan bisnis ini karena dianggap tidak berkelas.

Banyak bisnis lain yang memiliki peluang dan potensi di Aceh, salah satunya lagi adalah bisnis pernak-pernik yang terbuat dari fiberglass sebagai souvenir bagi pendatang. Pasca tsunami, ada beberapa ikon yang didirikan pemerintah sebagai bentuk apresiasi terhadap korban tsunami, salah satunya adalah museum tsunami, kapal PLTD apung dan lain-lain. Ikon ini semua bisa dijadikan bisnis melalui penyediaan pernak-pernik seperti miniatur kapal dan museum sebagai oleh-oleh bagi pengunjung untuk dibawa pulang.

Hingga hari ini, setiap pengunjung dari luar Banda Aceh datang melihat-lihat prasasti tsunami, mereka tidak membawa sesuatu sebagai tanda kunjungan mereka kecuali berphoto di masjid raya Baiturrahman, Kapal Apung dan Museum Tsunami, hanya photo. Bisa kita bayangkan, jika ada pebisnis yang melihat peluang ini sebagai sebuah fenomena yang diramu menjadi bisnis sebenarnya. Ya, membuat pernak-pernik dari bahan fiberglass dalam bentuk miniatur..... Miniatur Menara Masjid Raya, Miniatur Kapal Apung, Miniatur Museum Tsunami, Miniatur Kapal Penyeberangan Ke Sabang, Miniatur Kilometer Nol dan banyak lagi yang dapat dijadikan miniatur sebagai oleh-oleh pengunjung untuk dibawa pulang sebagai tanda Bungong Jaroe dari Aceh.
Selamat berbisnis...

Kebanyakan Tak Ada Yang Berubah



Kebanyakan yang kita lakukan hingga saat ini tidak ada yang berubah, alias konstan. Yang berubah adalah bagaimana cara melakukan sesuatu. Begitu kira-kira inti salah satu tulisan John Naisbitt dalam bukunya, Mindset.

Ya, kebanyakan memang begitu. renungkanlah apa yang kita lakukan selama ini. Sejak kecil kita sekolah bertahun-tahun lamanya tanpa ada yang kita ubah, kita melakukan hal yang sama setiap hari sepanjang tahun; bangun tidur, mandi, berpakaian, sarapan dan berangkat ke sekolah. Kemudian pulang, makan, bermain dan pulang lagi untuk istirahat. Begitu seterusnya hingga tamat sekolah.

Begitu juga orang dewasa yang bekerja, bangun pagi mereka bersiap-siap berangkat kerja ke tempat masing-masing, setiap hari sepanjang tahun hingga masa pensiun mengakhiri perjalanan mereka dari rumah ke kantor, tak ada yang berubah.

Begitu juga dalam dunia bisnis, para pebisnis melakukan hal yang sama dalam ruang produksi, berupaya agar sistem berjalan untuk berputarnya mesin perusahaan untuk mendatangkan laba. Setiap hari sepanjang tahun seumur eksistensi perusahaan bersangkutan. Inilah yang dikatakan rutin; menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, rutin berarti prosedur yang teratur dan tidak berubah-ubah; hal membiasanya prosedur, kegiatan, pekerjaan, dan sebagainya.

Lantas apa sebenarnya yang berubah dari semua rutinitas sehari-hari kita selama ini? Bahkan kita sering mendengar kata perubahan dalam perbincangan dan diskusi di berbagai tempat dan ruang. Dan kita terkungkung dalam kata perubahan tersebut sehingga memberikan kesan yang menakutkan akan sulitnya menghadapi perubahan tersebut.

Sebenarnya apa yang kita lakukan sepanjang hari selama hidup kita, tidaklah ada yang berubah, kebanyakan konstan adanya, yang berubah hanyalah bagaimana cara kita melakukannya.

Seorang pelajar akan berangkat ke sekolah dari rumahnya setiap pagi sampai dia tamat dari sekolah tersebut. Jika sang pelajar ingin cepat sampai ke sekolah, maka dia bisa mengubah cara berangkatnya dengan menggunakan kendaraan; jika sang pelajar merasa bahwa nilainya selama ini buruk, maka dia dapat mengubah cara belajarnya untuk memacu nilai agar lebih baik lagi.

Seorang pegawai yang setiap hari mendapat tugas mebuat surat-menyurat dalam jumlah banyak dengan menggunakan mesin tik manual, dapat mengubah caranya dengan menggunakan komputer untuk efektifitas dan efisiensi.

Dalam dunia bisnis, peningkatan laba perusahaan dapat pula ditempuh dengan cara yang berbasis pada teknologi tinggi, yakni memindahkan biaya produksi dari produsen kepada konsumen dengan cara menciptakan sistem registrasi dan pembayaran secara online, seperti pembayaran online untuk pembelian tiket pesawat, pembayaran rekening listrik, telepon dan tagihan-tagihan lainnya.

Dengan sistem manual, secara sederhana, dapat digambarkan, jika sebuah perusahaan penerbangan selama operasionalnya dalam jangka satu tahun harus mengeluarkan biaya milyaran, maka menurut data yang dipublish oleh TribuneNews.com, jumlah penumpang Sriwijaya Air tahun 2009 berjumlah 5,6 juta dan 7,2 juta penumpang pada tahun 2010.

Jika diasumsikan biaya cetak tiket per lembarnya adalah Rp. 1.000.-, maka dengan jumlah 6,5 juta penumpang, diperoleh angka Rp. 5,6 milyar biaya yang harus dikeluarkan untuk ongkos produksi tiket. Pada tahun 2010 diperkirakan ada kenaikan jumlah penumpang mencapai 7,2 juta, hingga biaya cetak tiket dengan asumsi yang sama menjadi Rp. 7,2 milyar.

Dengan sistem online, biaya-biaya produksi tiket ini dapat dipindahkan dan dibebankan kepada pelanggan. Jika dirunut mekanisme reservasi tiket, maka pelanggan yang melakukan pemesanan tiket online, secara mandiri melakukan booking hingga print out tiket di rumah masing-masing, atau mereka melakukannya di warung internet jika di rumah tidak dapat mengakses internet.

Mengakses internet, dimanapun tetap mengeluarkan biaya. Biaya internet ini merupakan salah satu pembebanan biaya kepada konsumen dari produsen. Setelah melakukan booking secara online, pelanggan harus melakukan pembayaran sebagaimana instruksi. Biasanya pelanggan melakukan transfer melalui ATM, SMSbanking atau Internet banking. Proses banking ini juga membutuhkan biaya transfer jika berlainan bank, jikapun pada bank yang sama, maka fasilitas SMSbanking tetap melakukan pemotongan biaya SMS normal, intinya, proses ini semuanya memakan biaya.

Yang terakhir adalah print out tiket. Setelah transfer dilakukan, maka pihak penerbangan/ perusahaan travel online, akan mengirimkan tiket kepada pelanggan melalui surat elektronik, maka pada saat yang sama, pelanggan dapat mengunduh file untuk memperoleh tiket tersebut hingga dapat dicetak dengan menggunakan printer.

Mencetak tiket yang dilakukan oleh pelanggan merupakan suatu kegiatan yang tidak bebas dari biaya, bahwa printer membutuhkan tinta agar dapat mencetak, tinta print juga harus dibeli oleh pelanggan, atau membayar biaya cetak jika print out dilakukan di warung internet.

Biaya-biaya yang dikeluarkan pelanggan dalam rangka mendapatkan tiket pada kasus di atas sejatinya merupakan biaya-biaya yang mestinya dikeluarkan oleh pihak penerbangan. Tetapi, aplikasi teknologi informasi saat ini sangat memungkinkan semua perusahaan dapat memangkas biaya produksi dengan perolehan laba dalam jumlah yang fantastis. 

Apa yang didapat oleh pelanggan? Kemudahan, waktu yang singkat, serta penghargaan atas izin akses situs penerbangan bersangkutan.

Dalam dunia bisnis, ubahlah bagaimana cara melakukan sesuatu, bukan mengubah apa yang kita lakukan.